“Upaya untuk menegakkan keadilan, kemanusiaan memang harus ditangani secara simultan, tetapi tetap harus berhati-hati. Lengah sedikit, bahaya mengancam.”
Sudah 32 tahun lamanya Sri Muhayati (59) menduga, bahwa sang ayah, Muhadi, yang hilang sesudah dibon dari Yogyakarta tahun 1966, termasuk dalam rombongan tahanan dari Yogyakarta yang dibantai di daerah Wonosobo. Sejak itu ia bercita-cita membuktikan dugaannya.
Penggalian kuburan massal yang dilakukan oleh YPKP di Hutan Situkup, Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo 16-18 November 2000 itu sejalan dengan isi artikel “Tentang Kuburan Massal di Hutan Situkup” yang ditulis oleh Femi Adi, mahasiswi Yogyakarta.
Mengenai penggalian kuburan massal di Wonosobo, Ketua YPKP, Sulami, menekankan bahwa tujuannya adalah semata-mata kemanusiaan. Kebetulan seorang relawan YPKP adalah anak salah seorang korban dan sedang mencari-cari orang tuanya yang hilang tak tentu rimbanya. Penggalian ini dilakukan untuk menanggapi keinginan relawan YPKP tersebut. Jadi penggalian ini sama sekali “tidak dimaksud untuk mengungkap luka lama atau menggugah dendam”.
Hasan Raid mengatakan, “Dengan penggalian kuburan di Wonosobo untuk kemanusiaan, telah dimenangkan suara publik di sekitar tempat penggalian, bahwa pembunuhan terhadap kaum komunis atau yang diperkirakan komunis pada tahun 1965/1966 benar-benar kenyataan. Ini bertentangan dengan cerita yang dimamah-biakkan oleh Orde Baru seolah-olah PKI-lah yang melakukan pembunuhan. Adalah suatu langkah yang keliru memolitisasi penggalian kuburan di Wonosobo yang izinnya diberikan berdasarkan kemanusiaan.”
Penulis: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit: Pataba, 2026
Kategori: Sejarah
ISBN: 9786025604607
SKU: BRD25174
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 12,5 x 17,5 cm l Softcover
Tebal: vi + 102 hlm | Bookpaper
Harga: 55.000