Merebut Bali: Kolonialisme, Kekerasan, dan Perlawanan 1846–1950 - Marjin Kiri
Merebut Bali: Kolonialisme, Kekerasan, dan Perlawanan 1846–1950.
Setahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Belanda kembali menduduki Bali dan melalui Konferensi Denpasar 1946 menetapkan pendirian Negara Indonesia Timur. Dengan dalih demokrasi, Negara Indonesia Timur hanyalah perwujudan taktik kolonial lama devide et impera. Para pemuda pejuang progresif di kubu Republik seperti I Gusti Ngurah Rai berhadapan langsung dengan otoritas Belanda yang didukung oleh dua pangeran Bali yang ingin menegakkan tatanan lama.
Merebut Bali adalah kisah sejarah yang belum ada presedennya tentang perang gerilya yang pecah di pulau itu pasca Perang Dunia II. Kisah menggugah sekaligus menyesakkan tentang penindasan, keberanian, perlawanan, persahabatan, dan pengkhianatan yang bukan hanya terkait dengan masa silam imperialisme, melainkan juga inti dari kebijakan dekolonisasi Belanda.
Didasarkan pada lebih dari 120 wawancara di Bali dan Belanda, riset arsip ekstensif dan pembacaan atas surat-surat, monumen, dan memoar, Anne-Lot Hoek menyelam ke dalam ikatan sistem kolonial itu sendiri. Hasilnya adalah gambaran yang jernih, inovatif, dan penuh nuansa mengenai perang brutal untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Penulis: Anne-Lot Hoek
Penerjemah: Rianti Manullang
Penerbit: Marjin Kiri, 2026
Kategori: Sejarah
QRCBN: 62-6771-2121-789
SKU: BRD26944
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20,3 cm l Softcover
Tebal: xviii + 804 hlm | Bookpaper
Harga: 243.000


