Kronik Nusantara: Dari Awal Abad Masehi Sampai Akhir 1900 - Pataba
KRONIK NUSANTARA: Dari Awal Abad Masehi sampai Akhir 1900
1336 (= 1258 S.)
* Pada upacara pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah (menurut naskah Pararaton), “Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: ‘Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.’ (Beliau Gajah Mada Patih Amangkubhumi tidak ingin melepaskan puasa. Beliau Gajah Mada: ‘Jika telah mengalahkan Nusantara, saya [baru akan] melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya [baru akan] melepaskan puasa.)’” (WI)
1755 Februari 13.
* Kerajaan Mataram di Jawa Tengah dipecah menjadi dua sesuai dengan Perjanjian Giyanti antara Surakarta dan Yogyakarta. (RMU 10) Perjanjian Giyanti ditandatangani tanggal 13 Februari 1755 di Desa Giyanti, Kabupaten Karanganyar, antara Kompeni, Sunan Paku Buwana III, dan Pangeran Mangkubumi. Isinya: Mengesahkan adanya dua kerajaan yang punya hak otonomi, yaitu: 1. Kesunanan Surakarta Hadiningrat (Mataram Timur) di bawah Sunan Paku Buwana III; 2. Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat (Mataram Barat) di bawah Sultan Hamengku Buwana I (Pangeran Mangkubumi). (KES) Perang Suksesi Jawa ke-3 berakhir dengan pembagian wilayah kekuasaan Mataram menjadi dua satuan pemerintahan, yaitu Solo (Surakarta) di bawah kekuasaan Susuhunan, dan Yogyakarta di bawah kekuasaan Sultan. Keduanya oleh Belanda sering disebut “kepangeranan” (Vorstenlanden). Di kedua istana ini VOC diwakili oleh seorang residen atau menteri. (LN2 58, 63; BC 13)
Penulis: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit: Pataba, 2026
Kategori: Sejarah
ISBN: 9786025604980
SKU: BRD27039
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20,5 cm l Softcover
Tebal: iv + 168 hlm | Bookpaper
Harga: 80.000

